kudengari satu persatu.. menusuk timpa jauh menyusuri.. hanyut.. di dasar hati.. terhampar di situ.. mata mulai berkaca meruntun airmata.. jiwa mulai basah.. jasad mulai dingin.. karam.. di situ kutemui lagi.. diriMu.

Sunday, September 21, 2014

Zikir... Zat Nurani


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Allah SWT berfirman, “Kerana itu, ingatlah kamu kepada-Ku nescaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” Qs. al-Baqarah:152

Zikir adalah tali hubungan antara Allah dengan seorang hamba. Orang yang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya. Dan yang melupakan Allah, maka Allah juga akan melupakan dan membiarkannya larut, hanyut dan tenggelam dalam kealpaan yang panjang. Larut dalam gelita hati dan kekeruhan rohani. Hanyut dalam kekerasan hati dan ketulian kalbu... waiyyanauzubillahiminzalik

Kita perlu mengingat Allah, karena kita memang memerlukannya. Sementara Allah tak perlu kita mengingat-Nya, namun kitalah yang menghajatkan zat-Nya. Mengingat Allah adalah pernyataan rasa syukur kita, sedangkan melupakan-Nya adalah ungkapan nyata kekufuran... [lihat Qs. Âli ‘Imrân [3]: 135].

Setiap manusia pasti pernah alpa dan lalai. Namun sebaik-baik manusia yang berbuat salah adalah yang segera kembali kepada penciptaannya, fitrah manusia yang melekat pada dirinya. Ia akan segera berzikir dan ingat kepada Allah, memohon ampunan-Nya, mengemis belas kasih-Nya di hadapan kasih sayang-Nya. Kerana dia sedar hanya Allah yang Maha Luas rahmat-Nya dan Maha Kasih, daripada murka-Nya, [Qs. Âli ‘Imrân [3]: 191]

Orang-orang yang berakal akan senantiasa mengingat Allah, merapatkan diri ke hadrat-Nya, merindukan-Nya, dan asyik mahsyuk bersama-Nya. Ia akan senantiasa ingat dan zikir kepada Allah dalam segala keadaan, hal, dan waktu.

Saat berdiri, duduk, atau berbaring dia ingat Allah. Ia dekat kepada Allah dengan semua asma`-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak dan iradat-Nya. Bagi dirinya, Allah adalah segalanya, di atas segala cintanya, termasuk diri sendiri.

Hal sebaliknya pula yang terjadi kepada orang-orang munafik [Qs. an-Nisâ` [4]: 142]. Mereka hanya mengingat Allah dengan kadar yang sangat sedikit. Kalaupun dia ingat, itupun dilakukan saat berada di tengah orang ramai kerana ingin mendapat pujian dan diakui alim warak.

Namun sesungguhnya hati dan nuraninya kosong dari zikir hakiki.
Berdirinya adalah kemalasan mengingat Allah, solatnya dilakukan dengan lewa dan berat hati. Dia bukan ingin dikasihi Allah, tapi dari pandangan dan kasih manusia. Riya menjadi selimut jiwanya, sehingga manusia pun merasakannya.


Radar keimanan orang yang bertakwa akan senantiasa bergetar keras ketika datang bisikan jahat yang akan menghancurkan diri dan menenggelamkannya dalam maksiat kepada Allah.

Radar keimanannya begitu aktif melawan virus-virus jahat yang mungkin menjangkiti dirinya. Radar keimanannya menyala tatkala ada serbuk dosa ditebarkan untuk meracuni [Qs. al-A’râf [7]: 201]

Ketenangan hati mampu menyingkap kesalahan yang dilakukannya saat itu, kekeliruan yang sedang mengintai, dan kejahatan yang tengah membidik dirinya. Nuraninya tajam berkat zikir [Qs. al-A’râf [7]: 205]

Manusia bertakwa akan senantiasa berzikir dalam hatinya dengan perasaan rendah diri, tak berdaya di hadapan Allah. Perasaan takut menyelimuti jiwanya. Suaranya rendah dalam nyala kobaran zikir dalam hatinya di pagi dan petang hari, di ubun-ubun siang dan jantung malam.

Kobaran zikirnya menyentuh ‘Arasy Allah yang Maha Rahman. Suara sunyinya demikian gemuruh di tengah para malaikat, melengking di tengah gemuruh tasbih malaikat yang mengelilingi Baitul Makmûr [Qs. al-Anfâl [8]: 2]

Hati mereka akan gemetar ketika nama Allah disebut, zikir pun akan segera meluncur dari mulut, membasahi lidah, dan memenuhi dadanya. Iman mereka melonjak tatkala ayat-ayat Allah dikumandangkan dan dialunkan. Tawakal menjadi hiasan hidupnya, dan memagari setiap geraknya [Qs. ar-Ra’d [13]: 27]

Dalam zikir mereka ada taubat. Hati mereka merasa damai, tenteram dan lembut dalam derasnya zikir yang mengalir dari samudera keimanan. Ketenteraman menghiasi hidupnya, melingkupi ruang jiwa, dan memadati kekosongan hatinya. Ia damai dalam zikir. Tenteram saat mengingat Allah.

Banyak orang sering berpaling kepada dunia, dan mabuk di dalamnya. Ia hanyut di arus dunia, karena zikir tidak mengalir deras dari hati melalui gelombang lisannya. Ia akan silau dengan dunia [Qs. al-Kahfi [18]: 28]

Sementara orang yang suka berzikir tak akan pernah lalai oleh urusan dunia, pekerjaan atau tugas-tugas negara, berniaga, anak, dan harta benda. Kerana mereka telah mengingatkan diri dengan langit, menyambungkan jiwa meraka dengan Penguasa langit dan bumi [Qs. an-Nûr [24]: 37]

Jiwa mereka akan sentiasa mempersiapkan diri untuk semua “pertemuan akbar” di Padang Mahsyar kelak, tatkala semua perbuatan ditanyakan, semua ucapan dipersoalkan, dan semua tindakan diminta tanggungjawabnya. Saat hati mengalami kegoncangan besar, saat jiwa dirasuki ketakutan.

Orang yang suka berzikir akan mampu mencontohi Rasulullah dalam semua tingkah laku, semua derap langkah, dan semua paradigma fikirannya. Rasulullah menjadi idola, kiblat perilaku moralnya [Qs. al-Ahzâb [33]: 21]

Ini kerana zikir berkobar menyala di jantung hatinya, dia akan sentiasa ingat kepada firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [Qs. al-Ahzâb [33]: 41] Ia sentiasa akan mampu memperbesar gelombang zikirnya dalam sepi dan ramai, suka dan duka, susah dan senang.

Kulit orang yang zikir akan bergetar manakala ayat-ayat Allah yang mulia dikumandangkan, dialunkan dan dilantunkan. Mereka akan tenang saat mengingat Allah mendengar Kitab Allah yang melahirkan damai, ketenangan, kesejukan jiwa, dan ubat bagi para pembacanya [Qs. az-Zumar [39]: 23]

Kerugian akan menimpa orang-orang yang lupa kepada Allah karena anak-anak mereka, dan tidak menjadikan zikir sebagai agenda hidupnya [Qs. al-Munâfiqûn [63]: 9]

Allah memperingatkan orang-orang beriman agar tak lupa kepada Allah kerana anak, apatah lagi kerana limpahan harta. Allah mengingatkan bahwa harta sering menarik kepada tindakan melupakan Allah, dan anak-anak akan melalaikan kita kepada-Nya.

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Qs. Al-Muzammil [73]: 8] “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.” [Qs. al-Insân [76]: 29]

Mari kita lantunkan zikir dalam nafas subuh, ubun-ubun siang, remang senja dan di jantung malam. Sebab, sangat banyak manfaat amalan zikir antaranya:

Pertama, mengusir, menangkal dan menghancurkan syaitan. Membuat Allah redha dan syaitan murka. Zikir akan menghilangkan resah, gelisah, dan gundah, lalu menghadirkankan ketenangan.

Kedua, segala keburukan menjadi sirna, kalbu menjadi kuat, badan menjadi sihat, memperbaiki yang lahir dan batin. Wajah terang dan bersinar, rezeki menjadi murah, ada wibawa dalam diri, dan ketenangan menjalar di segala arah.

Ketiga, istiqamah akan kukuh, kebenaran akan menghampiri, murâqabah akan tinggi, ehsân akan terangkul kuat, iman akan meneguh, taubat terus merambat, inâbah akan merayap, taqarrub menjadi mudah, ma’rifat menjadi terbuka, dan khâsyiyah akan berkilauan.

Keempat, zikir adalah makanan rohani, zat bagi tubuh. Ia adalah pembersih jiwa, pembening hati, pengusir lalai, dan penakluk syahwat. Kelalaian lenyap bersamanya. Ia adalah lentera penerang bagi gelitanya jiwa, pelebur dosa, dan pelenyap nestapa.

Kelima, mendatangkan sakinah, malaikat akan menaungi dengan sayap-sayap yang terbentang. Zikir akan menghambarkan lisan untuk mengumbar ghibah, melempar dusta dan berlaku zalim. Membuat teman duduknya tenteram. Dan zikir adalah tanaman surga yang akan dipetik oleh orang yang rajin menyiraminya.

Keenam, mencegah pikun atau nyanyuk, dan mengatasi kelalaian. Hati penzikir akan senantiasa menatap akhirat dan mengabaikan dunia. Karena zikir adalah asas dan puncak rasa syukur.

Ketujuh, zikir adalah api yang aktif bekerja menyirnakan sisa-sisa dosa, dan menghilangkan noda-noda kejahatan kita. Gunung, langit, bumi dan semesta, selain syaitan durjana, bangga dengan zikir-zikir manusia.

Kelapan yang akhir, dalam lantunan zikir, ada kelazatan yang luar biasa, dan kenikmatan tiada tara. Kobaran zikir yang terus menyala akan menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencintai Yang Maha Kuasa. Dalam lantunannya, kita masuk dengan damai dan tenteram bersama Allah.

kopipes fb


Hakikat Cinta Kepada-Nya

Mengenai hakikat cinta kepada Allah SWT menurut pandangan hakikat hikmah Tauhid dan Tasawuf, sebagaimana telah diungkapkan oleh Maulana Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam Kalam Hikmah beliau sebagai berikut:


"Orang yang begitu sangat cintanya bukanlah orang yang mengharapkan balasan sesuatu dari pihak yang dicintainya atau dia menuntut sesuatu maksud dari pihak yang ia cintai, karena orang yang begitu sangat cintanya itu ialah orang yang memberi buat anda, bukanlah orang yang begitu sangat cintanya itu merupakan orang di mana anda memberi buatnya."

Kalam hikmah ini, sepintas lalu sulit juga menangkapnya, apabila tidak kita berikan penjelasan sebagai berikut:

Apabila cinta dapat dilukiskan melalui huruf, tulisan dan maksud-maksud tertentu, pada hakikatnya itu tidak dapat dikatakan cinta atau mahabbah. Karena cinta yang demikian, adalah cinta yang dapat dibuat, demi untuk sampai kepada tujuan yang dikehendaki. Kerana itu, sesiapa yang mencintai seseorang supaya seseorang itu memberikan sesuatu kepadanya, bererti orang yang mencintai itu sebenarnya adalah mencintai dirinya sendiri, bukan mencintai orang yang dicintai. Ini kerana, jika sesuatu yang ditujukan untuk dirinya sendiri tidak ada, maka pastilah dia tidak akan mencintai orang yang dicintainya itu.

Kerana itulah, hakikat cinta pada orang yang mencintai, adalah memberikan keseluruhan yang ada pada dirinya demi untuk mendapatkan kerelaan daripada pihak yang dicintainya. Tanpa ada sesuatu yang ingin dicapai- berupa sesuatu yang sifatnya lahiriah dari pihak yang dia cintai. Sehingga tidak ada apa-apa lagi yang dimiliki olehnya, selain semuanya itu ia serahkan kepada pihak yang ia cintai. Atau boleh dikatakan, bahwa yang mencintai adalah dibunuh oleh kecintaannya itu, sehingga tidak ada tujuannya selain daripada kerelaan dari pihak yang dicintai. Misalnya saja seperti yang diungkapkan oleh pengarang Iqazul Himam fi Syarhil Hikam, tentang contoh seorang lelaki mencintai seorang wanita.

Lelaki itu berkata: "Aku betul-betul cinta padamu." Wanita itu menjawab: "Betapa anda cinta kepada saya, padahal yang duduk di belakang anda itu adalah lebih baik."

Mendengar itu, si lelaki tadi memalingkan mukanya melihat wanita yang ada di belakangnya, maka setelah wanita itu melihat bahwa lelaki itu memalingkan mukanya melihat wanita yang ada di belakangnya, dia berkata: "Anda ini adalah manusia yang tidak baik. Anda mengatakan begitu cinta kepadaku, tetapi anda palingkan muka anda melihat kepada selainku."

Itulah sebuah contoh dan apabila contoh ini kita kiaskan kepada hubungan cinta kita selaku hamba Allah kepada Tuhan Pencipta alam, Allah SWT. juga demikian. Kita mengatakan kepada diri kita dan kepada orang lain bahawa kita cinta kepada Allah, tetapi kita palingkan hati kita kepada sesuatu yang selainNya, atau merasakan sesuatu selain Allah, yang mempengaruhi hati kita. Maka ini menunjukkan cinta kita kepada Allah tidak kukuh, ia tidak lebih daripada dakwaan semata-mata.

Selanjutnya apabila kita begitu mencintai sesuatu, maka hendaklah jiwa raga kita itu, kita berikan buat sesuatu itu. Demikian pula, kecintaan seseorang kepada orang yang dia cintai, dia harus memberikan segala-galanya kepada pihak yang dia cintai.

Demikianlah kecintaan kita kepada Allah SWT, tidak boleh dipalingkan kepada selainNya. Kerana itu, apabila kita beribadah karena mengharapkan syurga-Nya maka itu bererti kita mencintai Syurga. Dan bukan mencintai Allah. Sebab hakikat cinta kepada Allah, hanya tertuju semata-mata kepada Allah dan kita lupa kepada hal-hal yang lain selain dariNya. Apakah itu merupakan keuntungan kita yang berupa pahala dari Allah, atau ganjaran dan sebagainya, yang merupakan hajat-hajat kita kepadaNya.

Ada sebuah contoh kejadian, yang telah terjadi pada seorang Waliyullah bernama Ibrahim bin Adham. Beliau berkata, Pada suatu hari, saya bermohon kepada Allah, seraya saya mengucapkan "Wahai Tuhanku, jika Engkau telah memberikan kepada seseorang dari orang-orang yang cinta kepadaMu ketenteraman hati sebelum bertemu denganMu, maka Engkau berikanlah pula kepadaku yang demikian. Karena hatiku resah sedemikian rupa, demi cintaku kepadaMu."

Ibrahim bin Adham meneruskan katanya, setelah sering aku berdoa demikian aku bermimpi, seolah-olah aku diperintahkan Allah berdiri di hadapanNya, dan Dia 'berkata' kepadaku, Wahai Ibrahim (bin Adham), tidaklah engkau malu kepadaKu, bahwa engkau memohon kepadaKu, supaya hatimu tenteram sebelum bertemu denganKu. Apakah begitu orang yang sangat rindu hatinya akan dapat tenteram, kalau tidak bertemu dengan yang dicintainya.

Apakah orang yang begitu cinta hatinya akan dapat tenang, tanpa bertemu dengan yang ia rindukan? Ibrahim (bin Adham) menjawab, "Wahai Tuhanku, aku bingung, dalam cinta terhadapMu. Maka aku tidak tahu, apa yang aku katakan, karena itu Engkau ampunkan dosaku, Engkau ajarlah aku ya Allah, apa yang seharusnya aku mesti katakan." 


Tuhan menjawab, "Katakanlah olehmu, Wahai Tuhan, Engkau redhailah aku dengan keputusan-keputusanMu, Engkau sabarlah aku atas cubaan-cubaanMu, Engkau ilhamkanlah kepadaku kalimah-kalimahMu, untuk aku mensyukuri segala nikmat-nikmatMu."
 
Demikianlah, kejadian mengenai cinta antara hamba dengan Tuhannya, bagi diri Ibrahim bin Adham.


ilham rasa: makrifatullah hakikat cinta

Perhentian...

Hamparan pasir melaut..
Terbentang kontang..
Gurun berbukit gersang..
Saujana memutih..

Langit jelas tanpa awan..
Terik dibakar suria..
Tanpa belas..
Sepi sayup...
Sesunyi di kuburan..

Di sini..
Si musafir terus melangkah..
Dalam langkahan terbenam..
Diatur longlai..
Kakinya memapah tubuh..

Siksa dahaga mencengkam....
Menjerut urat leher..
Didayakannya..
Mencari belas..

Dalam kembara ini yang membuta..
Di gurun pasir meluas..
Sudah ditinggal perjalanan yang memanjang..
Harungi di depan yang tak bersimpang..
Khayalkan teduh perhentian..
Mengharap sebuah curahan embun..

Angin debu terus menyayat..
Berdesir mengaburi pandangan..
Airmatanya kian kering..
Hampiri putus asa nan kecewa..
Mengusung hati yang rajuk..
Sayu kian menusuk.

Di penghujung pengharapan..
Si musafir akhirnya terhenti...
Rebah dalam tersungkur..
Di pertarungan getir..

Dalam nafas nadi yang bersisa..
Pandangan yang kian kelam..
Khayalannya mulai pudar..
Fikirannya hilang..
Umpama nyawa di hujung halkum..

Lantas satu suara menyapa..
"Engkau sudah temui perhentian itu"..
Hati si musafir terukir senyuman..

Ya Rab..
Apakah ini jawapannya?..
Lalu menitis airmata tulus..


 
25 Zulkaedah 1435
20 Sept 2014 (02:15)