Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Allah SWT berfirman, “Kerana itu, ingatlah kamu kepada-Ku nescaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” Qs. al-Baqarah:152
Zikir adalah tali hubungan antara Allah dengan seorang hamba. Orang yang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya. Dan yang melupakan Allah, maka Allah juga akan melupakan dan membiarkannya larut, hanyut dan tenggelam dalam kealpaan yang panjang. Larut dalam gelita hati dan kekeruhan rohani. Hanyut dalam kekerasan hati dan ketulian kalbu... waiyyanauzubillahiminzalik
Kita perlu mengingat Allah, karena kita memang memerlukannya. Sementara Allah tak perlu kita mengingat-Nya, namun kitalah yang menghajatkan zat-Nya. Mengingat Allah adalah pernyataan rasa syukur kita, sedangkan melupakan-Nya adalah ungkapan nyata kekufuran... [lihat Qs. Âli ‘Imrân [3]: 135].
Setiap manusia pasti pernah alpa dan lalai. Namun sebaik-baik manusia yang berbuat salah adalah yang segera kembali kepada penciptaannya, fitrah manusia yang melekat pada dirinya. Ia akan segera berzikir dan ingat kepada Allah, memohon ampunan-Nya, mengemis belas kasih-Nya di hadapan kasih sayang-Nya. Kerana dia sedar hanya Allah yang Maha Luas rahmat-Nya dan Maha Kasih, daripada murka-Nya, [Qs. Âli ‘Imrân [3]: 191]
Orang-orang yang berakal akan senantiasa mengingat Allah, merapatkan diri ke hadrat-Nya, merindukan-Nya, dan asyik mahsyuk bersama-Nya. Ia akan senantiasa ingat dan zikir kepada Allah dalam segala keadaan, hal, dan waktu.
Saat berdiri, duduk, atau berbaring dia ingat Allah. Ia dekat kepada Allah dengan semua asma`-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak dan iradat-Nya. Bagi dirinya, Allah adalah segalanya, di atas segala cintanya, termasuk diri sendiri.
Hal sebaliknya pula yang terjadi kepada orang-orang munafik [Qs. an-Nisâ` [4]: 142]. Mereka hanya mengingat Allah dengan kadar yang sangat sedikit. Kalaupun dia ingat, itupun dilakukan saat berada di tengah orang ramai kerana ingin mendapat pujian dan diakui alim warak.
Namun sesungguhnya hati dan nuraninya kosong dari zikir hakiki.
Berdirinya adalah kemalasan mengingat Allah, solatnya dilakukan dengan lewa dan berat hati. Dia bukan ingin dikasihi Allah, tapi dari pandangan dan kasih manusia. Riya menjadi selimut jiwanya, sehingga manusia pun merasakannya.
Radar keimanan orang yang bertakwa akan senantiasa bergetar keras ketika datang bisikan jahat yang akan menghancurkan diri dan menenggelamkannya dalam maksiat kepada Allah.
Radar keimanannya begitu aktif melawan virus-virus jahat yang mungkin menjangkiti dirinya. Radar keimanannya menyala tatkala ada serbuk dosa ditebarkan untuk meracuni [Qs. al-A’râf [7]: 201]
Ketenangan hati mampu menyingkap kesalahan yang dilakukannya saat itu, kekeliruan yang sedang mengintai, dan kejahatan yang tengah membidik dirinya. Nuraninya tajam berkat zikir [Qs. al-A’râf [7]: 205]
Manusia bertakwa akan senantiasa berzikir dalam hatinya dengan perasaan rendah diri, tak berdaya di hadapan Allah. Perasaan takut menyelimuti jiwanya. Suaranya rendah dalam nyala kobaran zikir dalam hatinya di pagi dan petang hari, di ubun-ubun siang dan jantung malam.
Kobaran zikirnya menyentuh ‘Arasy Allah yang Maha Rahman. Suara sunyinya demikian gemuruh di tengah para malaikat, melengking di tengah gemuruh tasbih malaikat yang mengelilingi Baitul Makmûr [Qs. al-Anfâl [8]: 2]
Hati mereka akan gemetar ketika nama Allah disebut, zikir pun akan segera meluncur dari mulut, membasahi lidah, dan memenuhi dadanya. Iman mereka melonjak tatkala ayat-ayat Allah dikumandangkan dan dialunkan. Tawakal menjadi hiasan hidupnya, dan memagari setiap geraknya [Qs. ar-Ra’d [13]: 27]
Dalam zikir mereka ada taubat. Hati mereka merasa damai, tenteram dan lembut dalam derasnya zikir yang mengalir dari samudera keimanan. Ketenteraman menghiasi hidupnya, melingkupi ruang jiwa, dan memadati kekosongan hatinya. Ia damai dalam zikir. Tenteram saat mengingat Allah.
Banyak orang sering berpaling kepada dunia, dan mabuk di dalamnya. Ia hanyut di arus dunia, karena zikir tidak mengalir deras dari hati melalui gelombang lisannya. Ia akan silau dengan dunia [Qs. al-Kahfi [18]: 28]
Sementara orang yang suka berzikir tak akan pernah lalai oleh urusan dunia, pekerjaan atau tugas-tugas negara, berniaga, anak, dan harta benda. Kerana mereka telah mengingatkan diri dengan langit, menyambungkan jiwa meraka dengan Penguasa langit dan bumi [Qs. an-Nûr [24]: 37]
Jiwa mereka akan sentiasa mempersiapkan diri untuk semua “pertemuan akbar” di Padang Mahsyar kelak, tatkala semua perbuatan ditanyakan, semua ucapan dipersoalkan, dan semua tindakan diminta tanggungjawabnya. Saat hati mengalami kegoncangan besar, saat jiwa dirasuki ketakutan.
Orang yang suka berzikir akan mampu mencontohi Rasulullah dalam semua tingkah laku, semua derap langkah, dan semua paradigma fikirannya. Rasulullah menjadi idola, kiblat perilaku moralnya [Qs. al-Ahzâb [33]: 21]
Ini kerana zikir berkobar menyala di jantung hatinya, dia akan sentiasa ingat kepada firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [Qs. al-Ahzâb [33]: 41] Ia sentiasa akan mampu memperbesar gelombang zikirnya dalam sepi dan ramai, suka dan duka, susah dan senang.
Kulit orang yang zikir akan bergetar manakala ayat-ayat Allah yang mulia dikumandangkan, dialunkan dan dilantunkan. Mereka akan tenang saat mengingat Allah mendengar Kitab Allah yang melahirkan damai, ketenangan, kesejukan jiwa, dan ubat bagi para pembacanya [Qs. az-Zumar [39]: 23]
Kerugian akan menimpa orang-orang yang lupa kepada Allah karena anak-anak mereka, dan tidak menjadikan zikir sebagai agenda hidupnya [Qs. al-Munâfiqûn [63]: 9]
Allah memperingatkan orang-orang beriman agar tak lupa kepada Allah kerana anak, apatah lagi kerana limpahan harta. Allah mengingatkan bahwa harta sering menarik kepada tindakan melupakan Allah, dan anak-anak akan melalaikan kita kepada-Nya.
“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Qs. Al-Muzammil [73]: 8] “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.” [Qs. al-Insân [76]: 29]
Mari kita lantunkan zikir dalam nafas subuh, ubun-ubun siang, remang senja dan di jantung malam. Sebab, sangat banyak manfaat amalan zikir antaranya:
Pertama, mengusir, menangkal dan menghancurkan syaitan. Membuat Allah redha dan syaitan murka. Zikir akan menghilangkan resah, gelisah, dan gundah, lalu menghadirkankan ketenangan.
Kedua, segala keburukan menjadi sirna, kalbu menjadi kuat, badan menjadi sihat, memperbaiki yang lahir dan batin. Wajah terang dan bersinar, rezeki menjadi murah, ada wibawa dalam diri, dan ketenangan menjalar di segala arah.
Ketiga, istiqamah akan kukuh, kebenaran akan menghampiri, murâqabah akan tinggi, ehsân akan terangkul kuat, iman akan meneguh, taubat terus merambat, inâbah akan merayap, taqarrub menjadi mudah, ma’rifat menjadi terbuka, dan khâsyiyah akan berkilauan.
Keempat, zikir adalah makanan rohani, zat bagi tubuh. Ia adalah pembersih jiwa, pembening hati, pengusir lalai, dan penakluk syahwat. Kelalaian lenyap bersamanya. Ia adalah lentera penerang bagi gelitanya jiwa, pelebur dosa, dan pelenyap nestapa.
Kelima, mendatangkan sakinah, malaikat akan menaungi dengan sayap-sayap yang terbentang. Zikir akan menghambarkan lisan untuk mengumbar ghibah, melempar dusta dan berlaku zalim. Membuat teman duduknya tenteram. Dan zikir adalah tanaman surga yang akan dipetik oleh orang yang rajin menyiraminya.
Keenam, mencegah pikun atau nyanyuk, dan mengatasi kelalaian. Hati penzikir akan senantiasa menatap akhirat dan mengabaikan dunia. Karena zikir adalah asas dan puncak rasa syukur.
Ketujuh, zikir adalah api yang aktif bekerja menyirnakan sisa-sisa dosa, dan menghilangkan noda-noda kejahatan kita. Gunung, langit, bumi dan semesta, selain syaitan durjana, bangga dengan zikir-zikir manusia.
Kelapan yang akhir, dalam lantunan zikir, ada kelazatan yang luar biasa, dan kenikmatan tiada tara. Kobaran zikir yang terus menyala akan menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencintai Yang Maha Kuasa. Dalam lantunannya, kita masuk dengan damai dan tenteram bersama Allah.
kopipes fb