kudengari satu persatu.. menusuk timpa jauh menyusuri.. hanyut.. di dasar hati.. terhampar di situ.. mata mulai berkaca meruntun airmata.. jiwa mulai basah.. jasad mulai dingin.. karam.. di situ kutemui lagi.. diriMu.

Sunday, August 24, 2014

Kisah Sufi

Orang-orang Yang Menyedari Kematian. 

Konon, ada seorang raja darwis yang berangkat mengadakan perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain memasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dan sebagai lazimnya- mereka pun meminta nasihat kepadanya. Apa yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberi tahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga: darwis itu tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadi perhatian darwis sepanjang masa. 

Rumusan itu adalah: "Cubalah menyadari maut, sampai kau tahu maut itu apa." Hanya beberapa penumpang saja yang secara khusus tertarik akan peringatan itu.

Mendadak ada angin taufan menderu. Anak kapal maupun penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan keselamatan. Selama itu sang darwis duduk tenang, merenung, sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-geri dan adegan yang ada di sekelilingnya.

Akhirnya suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langit tenang, dan para penumpang menjadi sedar kini betapa tenang darwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung. Salah seorang bertanya kepadanya, "Apakah Tuan tidak menyadari bahawa pada waktu angin taufan itu tak ada yang lebih kukuh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan kita dari maut?"

"Oh, tentu," jawab darwis itu. 

"Saya tahu, di laut selamanya begitu tetapi saya juga menyedari bahwa, kalau saya berada di darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-hari biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi."

---------------------------------------------------- 

Kau Akan Bersama Dengan Yang Kau Cintai

Pada suatu hari, salah seorang pengikut Nabi Isa as berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang memintanya untuk melakukan mukjizat; menghidupkan orang mati, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Isa.

Pergilah mereka ke pemakaman dan berhenti di sebuah kuburan. Pengikut Nabi Isa itu lalu berdoa kepada Tuhan agar mayat dalam kuburan tersebut dihidupkan kembali. Mayat itu bangkit dari kuburnya, melihat ke sekeliling, dan berteriak-teriak...  "Keledaiku! Mana keledaiku?" Ternyata semasa hidupnya, orang itu sangat miskin dan harta satu-satunya yang paling ia cintai adalah keledainya.

Pengikut Nabi Isa itu lalu berkata kepada orang-orang yang menyertainya, Engkau pun kelak seperti itu. Apa yang kau cintai akan menentukan apa yang akan terjadi denganmu saat engkau dibangkitkan... Anta ma'a man ahbabta. Di hari akhir nanti, engkau akan bersama dengan yang kau cintai.


---------------------------------------------------- 

Satu Hati Dua Cinta

Suatu hari, Fudhail bin Iyadh, duduk memangku anaknya yang berusia empat tahun. Sesekali ia mencium pipi anak itu sebagai ungkapan rasa sayang.

“Ayah, apakah kau mencintai aku?” tanya anak itu.

“Ya” jawab Fudhail.

“Apakah kau mencintai Tuhan?”

“Ya.”

“Berapa hati yang kau miliki, Ayah?”

“Satu.”

“Dapatkah kau mencintai dua hal dengan satu hati?” anak itu bertanya lagi.

Saat itu pula Fudhail terhenyak. Ia sadar yang berbicara bukanlah anak kecilnya melainkan Yang Mahakuasa. Merasa malu, ia mulai memukuli kepalanya dan bertaubat. Sejak saat itu, ia hanya persembahkan hatinya untuk Tuhan.



----------------------------------------------------


Sibuk Mengurus Hati

Suatu ketika, seorang Arab datang ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karamahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir. Ketika orang itu tiba, Abul Khair sedang memimpin majlis simaan... (acara mendengarkan orang membaca doa) di tengah para pengikutnya. 


Waktu itu Abul Khair membaca Al-Fatihah. 
Ia tiba pada ayat: 'ghairil maghdubi alaihim, wa laz zalim...'
Orang Arab itu berfikir, bagaimana mungkin aku boleh berguru kepadanya. 
Baca Al-Quran saja, ia tidak boleh. Orang itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.

Begitu orang itu keluar, ia dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Ia mundur tetapi di belakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya. Lelaki Arab itu menjerit keras karena ketakutan. Mendengar teriakannya, Abul Khair turun keluar meninggalkan majlisnya. Ia menatap kedua ekor singa itu dan menegur mereka. Bukankah sudah kubilang jangan ganggu para tamuku! Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair.

Sang sufi lalu mengelus telinga kedua singa itu dan menyuruhnya pergi. 

Lelaki Arab itu kehairanan, Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar? Abul Khair menjawab,
"Aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta..."


--------------------------------------------------------

Kerinduanmu Padaku Adalah Utusanku Bagimu

Pada suatu saat, seorang sufi tengah tenggelam dalam doa-doanya. Syaitan datang menghampirinya dan berkata, "Sampai bila kau akan terus seperti ini, memanggil-manggil Tuhan. Diamlah kau, Tuhan takkan pernah menjawabmu!

Sufi itu menjadi teramat sedih dan termenung diam. Ia tak meneruskan doanya.
Di malam harinya, Nabi Khidhir hadir dalam mimpinya dan bertanya, 

"Mengapa engkau berhenti menyeru Tuhanmu?"
 

Berkata sufi itu:
"Karena jawapan dari-Nya tak juga kuterima,"

Khidhir menjawab, 

"Tuhan sendiri yang menyuruhku untuk datang kepadamu." 

DIA berkata: 
"Bukankah AKU yang memerintahkanmu untuk berdoa? 
 Bukankah AKU yang menyibukkanmu dengan nama-Ku? 
 Rintihanmu memanggil nama-Ku; Allah, Allah! adalah jawapan-Ku untukmu. 
 Kerinduanmu pada-Ku adalah utusan-Ku bagimu. 
 AKUlah sumber dari semua air mata dan rintihanmu. 
 AKUlah yang memberi sayap bagi iringan munajatmu."

Wallahualam

No comments:

Post a Comment